Adat ,SYARAK ,Kitabbulloh

 

ADAT BA SONDI SYARAK , SYARAK BASONDI KITABBULLOH.

Di dalam Nagori Kito koto baru Simalanggang Adat BASONDI  SYARAK TU , BA TAREKAT , BA SYARIAT , BA HAKIKAT SAROTO BA MAKRIFAT. Nan basanda ka kitabbulloh , Kitabbulloh nan lain ,Kito yakini olah ado dalam Al quran , sahinggo bisa di kato an kitabbulloh Kito itu adolah Alqurannulkariem.


Mako hal Iko dapek Kito bahas sarupo barikut : 

 Syariat , Ulemu nan manyatoan hubungan Manusia Jo Alloh dan alam semesta. 


Kata syariat berasa dari bahaso Arab yakni syarī'ah (الشريعة), yang berarti "jalan" atau "jalan nan harus di tompuah   (tarekat)".


SYARIAT meliputi hidup manusia di antaronyo :


Ibadah:

 sholat, puaso, zakat, haji.


Muamalah: 

jual beli, utang piutang, sewa-menyewa, dan kegiatan ekonomi.


Keluarga: 

pernikahan, perceraian, nafkah, Jo warisan.


Akhlak:

 kejujuran, amanah, kasih sayang, dan adab.Nan sasuai Jo atutan agomo islam.

Sumber syariat adolah:

1. Al-Qur'an.

2. Sunnah (hadis) Nabi Muhammad ﷺ.

Ulama² malahiakan  ijmak Jo qiyas untuak memahami Jo menerapkan syariat pado persoalan-persoalan nan indak disobuk an secaro langsuang dalam nash nan ado (Alquran jo hadis)

Hasil pemahaman para ulama terhadap syariat ikolah nan  ba sobuk Jo Ulemu  fiqih.

Dalam tradisi tradisi Ulama terdahulu di jolehkan caro pamahman SYARAK nan mudah untuk Kito jalani sarupo:

Syariat:

 Manjalankan hukum saroto ibadah sasuai ajaran Islam nan dari 4 dasar ,Alquran ,Hadist ,Ijmak Jo qias. Dasar syariat :

Syariat (Syariah) secara bahasa berarti jalan yang harus ditempuh atau jalan menuju sumber air.


Secara istilah, syariat Islam adalah seluruh aturan yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mengatur kehidupan manusia, baik yang berkaitan dengan akidah, ibadah, akhlak, maupun muamalah.


Dalil Al-Qur'an:


> ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ


"Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan itu. Maka ikutilah syariat itu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui."


QS. Al-Jatsiyah (45): 18

Allah juga berfirman:

> لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا


"Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan (syir'ah) dan jalan yang terang (minhaj)."


QS. Al-Ma'idah (5): 48

Dalam Islam, syariat bersumber dari:


1. Al-Qur'an.

2. Sunnah Rasulullah ﷺ.

3. Ijma' (kesepakatan ulama).


4. Qiyas dan metode ijtihad yang diakui dalam ushul fikih.

Jadi, syariat adalah hukum dan tuntunan yang Allah tetapkan agar manusia menjalani kehidupan sesuai dengan petunjuk-Nya, dengan sumber utamanya adalah Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.

Kemudian Tarekat.

Tarekat: 


Dalam pengertian umum, tarekat (ṭarīqah) berarti jalan atau metode untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah, zikir, mujahadah (bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu), dan pembinaan akhlak, dengan tetap mengikuti syariat.

Beberapa dalil Al-Qur'an yang sering dijadikan landasan adalah:

  1. Mengikuti jalan Allah

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ

"Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia."

QS. Al-An'am (6): 153

  1. Bersungguh-sungguh mencari jalan menuju Allah

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

"Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami."

QS. Al-'Ankabut (29): 69

  1. Mencari wasilah kepada Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya."

QS. Al-Ma'idah (5): 35

Hadis-hadis yang menjadi dasar pentingnya penyucian jiwa dan zikir, antara lain:

  • Rasulullah ﷺ bersabda:

    "Perumpamaan orang yang berzikir kepada Rabbnya dan orang yang tidak berzikir seperti orang hidup dan orang mati."

    Diriwayatkan oleh .

  • Rasulullah ﷺ juga bersabda:

    "Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian."

    Diriwayatkan oleh .

Kesimpulan

Jika yang dimaksud tarekat adalah jalan pembinaan ruhani yang berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah serta tidak bertentangan dengan syariat, maka banyak ulama dari berbagai mazhab menerima praktik tersebut.

Namun, rincian amalan, metode zikir, baiat, dan tata cara dalam setiap tarekat berbeda-beda. Karena itu, setiap amalan hendaknya diukur dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

"Barang siapa mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka amalan itu tertolak."

Diriwayatkan oleh dan .

Karena itu, para ulama sepakat bahwa semua amalan—termasuk amalan tarekat—harus tetap berada dalam koridor Al-Qur'an dan Sunnah. Di luar itu, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai sebagian praktik yang berkembang dalam berbagai tarekat tertentu.

(Jalan pembinaan spiritual),  


Hakikat:

Hakikat (الحقيقة) berarti kebenaran yang sesungguhnya, inti, atau realitas suatu perkara.

Dalam kajian tasawuf, hakikat dipahami sebagai pemahaman batin terhadap kebenaran yang diperoleh setelah seseorang menjalankan syariat dengan benar. Namun, pemahaman ini adalah istilah yang berkembang dalam tradisi keilmuan Islam, bukan istilah yang dijelaskan sebagai tingkatan tersendiri dalam Al-Qur'an atau hadis.

Beberapa dalil yang sering dikaitkan dengan makna hakikat antara lain:

1. Ibadah yang melahirkan keyakinan yang mantap

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

"Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqin."

QS. Al-Hijr (15): 99

Mayoritas ulama tafsir menjelaskan bahwa "al-yaqin" dalam ayat ini berarti kematian, bukan tingkatan spiritual yang membuat seseorang tidak lagi terikat syariat.

2. Hadis tentang ihsan Ketika bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang ihsan, beliau menjawab:

"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."

Hadis ini diriwayatkan dalam dan Banyak ulama tasawuf mengaitkan maqam ihsan dengan pembinaan hati yang kemudian disebut sebagai jalan menuju hakikat.

Kesimpulan

Syariat adalah aturan lahiriah yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah.

Hakikat adalah istilah yang digunakan dalam tradisi tasawuf untuk menggambarkan pemahaman dan penghayatan batin terhadap kebenaran agama.

Dalam pandangan mayoritas ulama, hakikat yang benar tidak pernah bertentangan dengan syariat. Siapa pun yang mengaku telah mencapai "hakikat" tetapi meninggalkan syariat, maka pengakuan tersebut tidak dibenarkan. Syariat dan hakikat dipandang saling melengkapi, bukan saling menggantikan.

 Memahami makna ibadah sacaro batin  dari amal ibadah nan baka rojoan sahinggo barubah caro hidup Kito ka arah nan di ridhoi , Karono maraso kehadiran Alloh taala satiok denyut jantung Kito.


Makrifat: 

Makrifat (Arab: المعرفة – al-ma'rifah) secara bahasa berarti pengetahuan, pengenalan, atau mengenal.

Dalam istilah tasawuf, makrifat kepada Allah berarti mengenal Allah dengan hati melalui keimanan, ilmu, dan penghayatan yang mendalam, sehingga melahirkan ketakwaan, keikhlasan, dan akhlak yang baik.

Al-Qur'an tidak menggunakan istilah makrifat sebagai tingkatan agama, tetapi banyak ayat yang memerintahkan manusia untuk mengenal Allah. Misalnya:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

"Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah."

QS. Muhammad (47): 19

Allah juga berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

"Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu."

QS. Fatir (35): 28

Dalam hadis, Rasulullah ﷺ menjelaskan tingkatan ihsan:

"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."

Hadis ini diriwayatkan oleh dan .

Banyak ulama tasawuf menjadikan hadis ihsan ini sebagai landasan pembinaan menuju makrifat, yaitu mengenal Allah dengan lebih dalam melalui ilmu, ibadah, zikir, dan penyucian jiwa.

Hubungan syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat

Dalam tradisi tasawuf sering dijelaskan sebagai berikut:

Syariat: menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah.

Tarekat: metode atau jalan untuk memperbaiki diri dan mendekat kepada Allah.

Hakikat: memahami makna batin dari ibadah dan kebenaran agama.

Makrifat: mengenal Allah dengan pengenalan yang semakin mendalam sehingga melahirkan rasa takut, cinta, dan tawakal kepada-Nya.

Perlu dicatat bahwa pembagian empat istilah ini merupakan penjelasan para ulama tasawuf, bukan pembagian yang disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur'an atau hadis. Apa pun istilahnya, semuanya harus tetap berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah, serta tidak boleh bertentangan dengan syariat Islam.

Empat istilah SYARAK itu bukan di patontangan tapi saliang menguek an , di pakai sarupo jonjang kanayiak, syariat nyato untuk  lahiriah. Lahiriah manuruk ajaran Kito adolah Lahir (Zahir) saroto kahidupan (keluarga)


Sabaliaknyo, Menghidupkan nilai batin saroto hidup adolah Jo  tarekat (jalan), hakikat (nyatonyo batin), jo makrifat (yakin selalu bersama Alloh SWT) .

Singkek carito , syariat adolah dasar caro hidup kehidupan seorang Muslim,  fiqih adolah Ulemu untuk hidup jadi urang islam .

Fiqih adolah Ulemu nan  manorangkan  hukum-hukum Jo undang /aturan syariat Islam nan  ma atur perbuatan manusia, sasuai dolia (dalil-dalil)  dalam Al-Qur'an, hadis, ijmak (kesepakatan ulama), Jo  qiyas (analogi, persamaan ).


Secaro bahaso, fiqih berarti pemahaman nan mendalam tontang caro hidup. 

Dalam istilah syariat, fiqih adolah pemahaman Kito Jo  hukum-hukum Islam nan  berkaitan Jo  amalan Kito sebagai Muslim.

Contoh pembahasan fiqih meliputi:

Ibadah: 

Tata cara wudu, solat, puaso, zakat, haji.

Muamalah: 

Jua boli, utang piutang, sewa-menyewa, kemitraan usaho.

Munakahat: 

Pernikahan, perceraian, nafkah, hak dan kewajiban suami istri.

Jinayah: 

Pembahasan tontang tindak pidana jo sanksi menurut hukum Islam.

Waris (faraid): 

Pembagian harota warisan.


Fiqih ba beda jo syariat:


Syariat adolah katontuan nan berasa dari Allah dan Rasul-Nya.

Fiqih adolah hasil pemahaman Jo penafsiran ulama² di Muko dolia ( dalil-dalil ) syariat. Karono marupo an hasil ijtihad ( ijtihad adolah manotapkan hukum , bilo Bona Mako bapahalo 2, jikok salah ba pahalo cuek ),

 Dalam  masalah² fiqih buliah  ado beda pandapek nan  totap  dalam ruang Jo ronah ke  Islam an.

Di dalam Islam Sunni, ado ompek  mazhab fiqih nan  jadi pidoman ,dek Kito di kotu baru Simalanggang adolah Mazhab syafi'i ,Mazhab nan lain adolah 

Mazhab Hanafi

Mazhab Maliki

Mazhab Hanbali

Kabanyaan Nagori di negara Kito Indonesia pakai Mazhab Syafi'i.


Dari pemahaman ikolah tumbuah  Akidah .

Sahinggo Aqidah adolah Ulemu kayakinan , 

fiqih adolah  tuntunan syariat (caro caro malakuan karojo badan tubuah manusia ), saroto Ulemu untuk manjadian batin Kito juo malakuan hal nan Samo , sahinggo Baa di lua baitu Pulo di dalam , Baa batin baitu Pulo lahia , Mako tumbuah Ulemu baru untuk manunduak an hati Kito sendiri . Ulemu Iko Tasawuf namonyo.

 Tasawuf adolah Ulemu manyuci an hati manusia sahinggo elok  akhlak manusia nan mamakai nyo. Ikolah tali tigo sapilin dibdapam  keilmuan Islam.

Supayo Kito sabagai manusia totap sarupo nan di ateh,  Mako Kito parolu ma ambiak sikap dalam kehidupan Kito di dalam masyarakat di Nagori, jalan nan ba ambiak itu adolah tarekat Namonyo. 

Mako 

Tarekat adolah jalan, metode saroto caro  untuak dokek Jo Alloh swt,

 Di dalam tarekat ikolah di lakukan  pambinaan spiritual (tasawuf).

 Kato tarekat barasa dari bahaso Arab ṭarīqah (طريقة), na  artinyo  "jalan" atau "cara".

Sacara sederhana, tarekat  ba pahami Jo caro caro :

M a amal an ibadah wajib .

Mampabanyak zikir, du'a, jo ibadah sunnah.

Melatiah akhlak kurenah diri  sahinggo  soba, ikhlas, tawakal,jo rondah hati.Iko bisa di lakukan di surau surau , nan guru nyo punyo silsilah ,ranji Ulemu nan  basambung hinggo ka Nobi Muhammad ﷺ.

Tarekat nan banyak di ikuk kaum Minang :

Tarekat Qadiriyah

Tarekat Naqsyabandiyah

Tarekat Syadziliyah

Tarekat Tijaniyah

Tarekat nan ka kito pakai adolah nan 

Bapogang toguah Jo  Al-Qur'an saroto  Sunnah Rasulullah sAW.

Tarekat nan Indak ma aja Kito Jo kurenah nan ba tontangan Jo syariat islam .

Guru di tarekat nan Kito ikuti ba akhlak nan mulia saroto ba Ulemu Jo syariat islam.

Tasawuf adolah Ulemu nan ma aja Kito ba a caro² malunakan jiwa , Tarekat adlah caro jalan pinteh untuak ma amal an ajaran tasawuf.


Dolia (dalil) tarekat dalam Alquran.

1. Mancari jalan (wasilah) kapado Alloh SWT.

> "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya..."

QS. Al-Ma'idah (5): 35

Ulama tasawuf mamahami ayat ko, jadi landasan Jo  anjuran untuak mencari jalan nan dapek  mandokekan diribkito  kapadao Alloh ta ala,jo amal soleh, zikir, tobat, saroto palatiah an diri.

2. Ma ikuti jalan urang-urang nan olah  kumbali kapado Allah, 

> "...Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku..."

QS. Luqman (31): 15.

Juo ayat Al qur an surek Alfa tihah . Jalan orang yang engkau beri nikmat atas mereka. 

Ayat ayat itulah nan di jadian urang  soliah mam bimbiang urang lain , manompuh jalan menuju Allah.


3. Berzikir sabanyak-banyaknyo


> "Wahai orang-orang yang beriman! Berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya."


QS. Al-Ahzab (33): 41


Zikir marupokan salah satu amalan utamo dalam berbagai tarekat.


4. Manyuci an jiwa


> "Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya."

QS. Asy-Syams (91): 9


Panyucian jiwa (tazkiyatun nafs) adolah tujuan utamo dari tarekat.

5. Mujahadah (basungguah-sungguah di jalan Allah)


> "Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami."

QS. Al-'Ankabut (29): 69


Ulama tasawuf  mamahami ayat ko untuak basungguh-sungguah dalam ibadah Jo  pajuangan diri malawan hawo nafosu.

Salain ayat-ayat Al-Qur'an, praktik-praktik nan umum dalam tarekat sarupo zikir, tobat, muhasabah, jo bimbingan guru juo badasarkan pado hadis-hadis Nabi ﷺ.

(Perlu dicatat bahwasanya  terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama. Banyak ulama menerima tarekat sebagai metode pembinaan spiritual selama tetap berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah). 

Di sisi lain, ado ulama nan mengkritik praktik-praktik tertentu dalam sebagian tarekat jiko dinilai indak memiliki dasar nan kuek , batontongan Jo  syariat.


Sahinggo , tolak ukua nan  basapakati sacaro umum  adolah di  satiok amalan tarekat harus sasuai jo Al-Qur'an, Sunnah, saroto prinsip-prinsip syariat Islam.


Dalam tradisi tasawuf, hakikat adolah pamahaman saroto panyaksian ta hadok kenyataan  batin di baliak amalan lahiriah.

 Bilo syariat ma atur apo nan harus ba lakukan, mako hakikat berkaitan dengan makna jo kenyataan jiwa (spiritual) dari amalan nan ba lakukan.

Lukih limbago nan nampak:

Syariat: 

Adolah tata cara sholat, puaso, zakat, jo ibadah lainnyo sesuai aturan nan ado di Mazhab Syafii.


Tarekat: 

Adolah jalan malatiah  jiwa ( spiritual ) untuak totap dokek  Jo  Allah SWT. Sahinggo sulik untuak malupoan Alloh ta'ala.


Hakikat: 

Adolah kesadaran nan  mandalam akan kehadiran Allah,  Raso dari keikhlasan, Jo  makna batin dari ibadah nan balaku an ,badirian, Sahinggo barasiah lah jiwa dari hal kotor ,keji lagi hina .


Makrifat:

Adolah  pamahaman nan lobiah dalam saroto basifat pribadi tontang ka dokek an diri pribadi pado Alloh ta'ala, sarupo kadokek an Bagindo Ibrahin AS. ka Alloh katiko di tanyo Jibril AS di dalam api unggun an Rajo nambrut laknat tulloh.  


Kifiat dalam hidup :

Syariat mambori tau Kito tontang  rukun jo cara sholat.

Tarekat malatiah hati Kito supayo rotap khusyuak Jo caro mamulangan sado nan ado ka Alloh SWT, sarupo Kito ka Togak untuak Sholat , parolu kudorat Mako siapo nan punyo kudorat , Katiko Kito ka mambaco takbir tu ihram , Sia nan punyo kalam, tontu itu punyo Alloh SWT . Saaudah sholat supayo totap maraso Basamo Alloh Kito biasokan diri ba  melalui zikir Jo dua. Bilo itu di raso bakatotapan dapek di milik i Mako Kito olah ba hakikat dalam hidup.

Sahinggo Hakikat dapek di arti an   hadirnyo kesadaran nan mandalam tontang kahadiran Kito di hadapan Allah SWT, sahingga sholat saroto ibadah Kito nan lainnyo  ukan hanyo gerakan jasad kito sajo , Tapi sampai ka tingkek Batin, Sahinggo Kito bakasompatan di bori hidayah , hikmah saroto nan lainnyo oleh Alloh SWT, Mako ka adaan Iko di namoi Makrifat. 


Mako Makrifat dapek dipahami sabagai pengenalan nan lobiah dalam kapada Allah jo kedekatan jiwa( spiritual ).

Mayoritas ulama tasawuf menegaskan bahasonyo  hakikat Indak  buliah batontangan jo syariat.

Mako  Indak Ado dari Kito nan  dapek  manyatoan diri bebas dari syariat bilo olah mandapek an hakikat dari sagalo sasuatu  saroto makrifat kapado Alloh SWT. 

Sahinggo dalam pandangan Kito kapado  syariat tarekat,  hakikat saroto makrifat adolah tingkek tingkek usaho Kito dalam usaho menuju Alloh SWT , Saroto nyato dek Kito itulah sarana penyempurnaan amalan Kito dalam agama kito.

Syariat membimbiang amal lahiriah, sodangkan hakikat mampadalam kualitas batin dari amalan Kito sabagai manusia. Tarekat adolah usaho Kito mangaluaan nan buruak dari diri Kito saroto caro maisi diri Kito Jo ajaran nan bona sasuai Jo Al-Qur'an,akhirnyo Kito di bori Hikmah Jo nan lainnyo sahinggo Kito Indak bisa di sosekkan dek apo juo nan ado di ateh dunia tamasuak rayuan iblis laknattulloh. Sasuai ayat Alloh SWT.

Makna iko ado, dalam Al-Qur'an, sarupo:

Surah Az-Zumar ayat 37:

"Dan barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya..."

Surah Al-A'raf ayat 178:

"Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang dibiarkan sesat, maka mereka itulah orang-orang yang rugi."

Kemungkinan - kemungkinan nan Kito dapek katiko Kito mamakaikan SYARAK nan sarupo iko Mako badirilah adat dalam diri Kito .

Dari ka adaan ikolah satiok anak Minang ,khususnyi anak kamanakan koro baru simalanggang, mampu memakai adat nan dalam maknanyo. 


Contohnyo :

- Bajalan surang nak da ulu, artinyo seorang Minang mampu melampaui dirinya sendiri dalam hidup dan kehidupannyo, sahinggo bisa jadi Khalifah ,pemimpin di antaro dirinyo Jo masyarakat banyak , anak kamanakan di Nagori. 

-Bajalan baduo nak di Tongah. 

Sacaro lahir nyo kawan sa parjalanan ko Kito bolah , tapi sacaro batin adolah Kito mampu masuak KA diri kawan sapajalanan ko ,artinyo kito tau sa tau taunyo tontang kawan Kito ko , baik lahir ,batin, hidup saroto kehidupannyo. 

Madok Kito ka Lahir nyo Kito tau siapo kawan ko , panyakiknyo , cacat fisiknya, lomah Jo kuek badannyo, pokok kato masalah pribadi nyo Kito tau. 

.Madok Kito kapado Batinnyo Kito pun tau ,Baa parangainyo,kurenah nyo , sifatnyo, jiwanyo , karakternyo , sumangeknyo, impian hatinyo, pantangan jiwa nyo.

Madok Kito ka hidup nyo, kitopun tau hidupnyo, Apo karojonyo, Induak somangnyo, bara nyo dapek hasil dari maso ka maso dek karojo nan Inyo karojoan . Cukuk atau Indak , Manyolang nyolang baliau ko dari maso ka maso , Baa boban nan baliau tangguang dari maso ka maso atau lai balobiah  saroto kaadaa² lainnyo .

Madok Kito ka kahidupan nyo, kitopun tau Jo Kahidupanyo, Sia urang tuonyo, adiak Jo kakonyo, sanak keluarganya , mamak saroto pangulunyo, tau Pulo Kito kampuang Jo Sukunyo , Tau Pulo Kito Inyo ko urang asa atau usua.

Baitulah caro "BAJALAN BADUO NAK DI TONGAH.

- TOGANG BA JELO JELO. 

Iko kaadaan satiok insan nan samparono SYARAK nyo nan mampu malakuannyo.Baa dek baitu sobab Iko adolah raso maaf Kito pado urang nan lah basumpah ka babuek bayiak tapi dek iduk Jo kahidupan nyo, dek lahia Jo Batinnyo tapaso talangga pantangan adat, Kito harus mamaafkan sobab manusia basifat Gawa ,Tuhan Alloh lah nan Qodim. Soba tahadok kalakuan urang sobab urang tu lah bajonji Indak sarupo itu , Mudah² pado maso nan ka datang kumbali baliak ka jalan nan elok sasuai adat Jo agamo.

KONDUA BADONTING DONTIANG.

Iko adolah caro Kito ma adok i anak kamanakan nan Indak omuah di tunjuak ajai   , di maafkan ba biya kan sajo bilo maso sampai ka jonjian Mako basuo anak kamanakan Jo masalahnyo , misal sampai ka polisi Mako putuh lah nan badontiang tu, salosai urusan nyo.

TAKURUANG NAK DI LUA, TA IMPIK NAK DI ATEH.

Adolah caro Kito mamocah masalah nan tumbuah di dalam Nagori, Baa masalah nan tumbuah kok Godang di paketek , nan ketek Kito ilangan , Contohnyo manyalosaian parkaro anak kamanakan nan ma Hino marabat urang lain Jo perbuatan cabua, Mako di aja anak kamanakan untuak batanguang jawab, manikahi urang nan ta Hino Jo manikahkannyo ,sahinggo tatutuk malu urang tu , kok Ndak nomuah ka kandang si tumbun badan anak kamanakan. Kok mancilok anak kamanakan bapakai undang Minang  "Salah tariak maluahkan , kok bicaro salah sahinggo ma Hino urang lain , "Salah kato mintakan mooh.

Banyak hal lain nan bisa Kito dapek, Kito pahami bilo Kito selalu ba usaho untuak bisa mangumbalian sesuatu kepado Alloh SWT, Jo caro Basyariat, ba Tarekat, ba Hakikat, saroto ba Makrifat.

Syariat manuruk adat di kombankan dek ompek jinih Taru Tamo ongku Luma ( Suku Jambak), Tarekat dek ongku Bila ( Malayu) , hakikat dek ongku Kotik( Caniago) , makrifat dek ongku Imam (Sambilan) .

Wallohu a'lam bisshowab..



Akhirul Kalam totap lah *Maha benar Alloh Dengan segala FirmanNya"


SEKIAN





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Nagori Koto Baru Simalanggang.

ADAT NAGORI KOTO BARU SIMALANGGANG / CAMPAK KA OMPEK

ADAT NAGORI KOTO BARU SIMALANGGANG , CAMPAK NAN KA DUO