ASWAJA

 ASWAJA 

(Ahlus sunnah wal jamaah).



Akar Sejarah dan Makna Awal

Secara bahasa, Ahlus Sunnah berarti orang-orang yang mengikuti jalan atau tradisi Nabi Muhammad SAW, sedangkan wal Jamaah berarti komponen mayoritas umat Islam yang bersepakat di atas kebenaran.


Pada fase awal (generasi Sahabat dan Tabi'in), istilah ini belum menjadi sebuah madzhab teologis formal. Seluruh umat Islam yang setia pada ajaran murni Islam tanpa membuat inovasi (bid'ah) dalam akidah secara otomatis disebut sebagai Ahlus Sunnah.


Tokoh Utama Penyusun Teologi Aswaja

Ketika wilayah Islam meluas, muncul berbagai gejolak pemikiran seperti aliran Khawarij, Syiah, dan puncaknya adalah Mu'tazilah (aliran yang sangat mengagungkan rasio/akal). 

Untuk membendung pemikiran tersebut, muncullah dua ulama besar yang merumuskan kembali akidah sesuai tradisi sahabat:


1.  Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari (260–324 H / 874–936 M)

Ia semula adalah tokoh Mu'tazilah, namun kemudian keluar dan merumuskan manhaj akidah yang menyeimbangkan antara teks wahyu (naql) dan logika (aql). Pengikutnya disebut sebagai Asy'ariyah.


2.  Imam Abu Mansur al-Maturidi (wafat 333 H / 944 M)

Ia merumuskan teologi serupa di wilayah Samarkand (Asia Tengah). Pengikutnya disebut sebagai Maturidiyah.


Kedua aliran teologi inilah yang menjadi pilar utama teologi Aswaja hingga hari ini.


. Tiga Pilar Utama Aswaja dalam Tradisi Islam

Dalam perkembangannya, identitas Aswaja tidak hanya mencakup masalah akidah, tetapi juga mencakup tiga dimensi utama agama (Iman, Islam, dan Ihsan):


   1. Bidang Akidah (Teologi): Mengikuti madzhab Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi.

   2. Bidang Fikih (Hukum Islam): Mengikuti salah satu dari empat madzhab besar yang muktabar (sahih): Hanafi, Maliki, Syafi'i, atau Hambali.

   3. Bidang Tasawuf (Spiritual/Akhlak): Mengikuti manhaj para sufi yang moderat dan tidak keluar dari syariat, seperti Imam al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi.

 4. Karakteristik Utama Aswaja

Aswaja dikenal dengan prinsipnya yang moderat (Tawasuth), seimbang (Tawazun), toleran (Tasamuh), dan tegak lurus (I'tidal). 

Sifat utama ini membuat Aswaja selalu berada di jalan tengah—tidak ekstrem kanan (literal-radikal) dan tidak ekstrem kiri (liberal-rasionalis).


BENTUK ASWAJA NEGERI KITA.

Corak amalan antara kelompok tradisionalis (seperti Nahdlatul Ulama) dan reformis (seperti Muhammadiyah).


Berikut adalah rincian perbedaan pandangannya:


1. Tradisi Tahlilan Golongan Tradisionalis (Aswaja An-Nahdliyah / NU): Melaksanakan tahlilan karena membolehkan kirim pahala bacaan Al-Qur'an dan zikir kepada orang yang sudah meninggal. Mereka juga memadukannya dengan kearifan lokal.

( .Hadis tentang mengirim pahala kepada orang yang telah meninggal tidak datang dalam bentuk kalimat "kirim pahala", tetapi terdapat beberapa hadis sahih yang menunjukkan bahwa amal orang hidup dapat bermanfaat bagi mayit.

Berikut beberapa dalil yang paling kuat:

1. Hadis tentang sedekah untuk orang tua yang telah meninggal

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha:

Seorang laki-laki berkata kepada Nabi ﷺ:

"Sesungguhnya ibuku meninggal secara mendadak dan aku mengira jika ia sempat berbicara tentu ia akan bersedekah. Apakah ia mendapat pahala jika aku bersedekah atas namanya?"

Nabi ﷺ menjawab:

"Ya."(HR. Bukhari no. 1388 dan Muslim no. 1004)

Hadis ini menjadi dalil bahwa sedekah atas nama mayit sampai pahalanya menurut ijmak ulama.

2. Hadis tentang haji untuk orang yang telah meninggal

Seorang wanita bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai ibunya yang bernazar haji tetapi meninggal sebelum menunaikannya.

Beliau bersabda:

"Tunaikanlah haji untuknya."

(HR. Bukhari no. 1852)

Ini menunjukkan pahala haji dapat bermanfaat bagi mayit.

3. Hadis tentang puasa

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barang siapa meninggal dunia dan masih memiliki kewajiban puasa, maka walinya berpuasa untuknya."

(HR. Bukhari no. 1952 dan Muslim no. 1147)

4. Hadis tentang doa

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya."

(HR. Muslim no. 1631)

Hadis ini secara jelas menunjukkan bahwa doa anak saleh bermanfaat bagi orang tuanya yang telah meninggal.

Bagaimana dengan pahala membaca Al-Qur'an lalu dihadiahkan kepada mayit?

Di sinilah terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama:

Mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Hanbali, dan banyak ulama Syafi'iyah muta'akhirin berpendapat bahwa pahala bacaan Al-Qur'an dapat dihadiahkan kepada mayit, dengan izin Allah.

Sebagian ulama Syafi'iyah terdahulu dan sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa yang secara tegas ada dalilnya adalah doa, sedekah, haji, dan puasa, sedangkan bacaan Al-Qur'an tidak ada hadis sahih yang secara eksplisit menyatakan Nabi ﷺ mengajarkan menghadiahkan pahalanya kepada mayit.

Jadi, dalil yang disepakati manfaatnya untuk mayit adalah:

Doa. Sedekah. Haji. Puasa (dalam kondisi tertentu).

Sedangkan menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur'an merupakan masalah khilafiyah (perbedaan pendapat) di kalangan ulama. Sebaiknya kita menghormati perbedaan ijtihad tersebut dan tidak saling menyalahkan.)


Golongan Reformis: Tidak mengamalkan tahlilan berjamaah dengan format khusus (selamatan) karena merujuk pada dalil bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat tidak pernah mempraktikkannya.


2. Wirid dan Zikir Sesudah Sholat.

Zikir Berjemaah: Kedua golongan sama-sama berzikir, namun Aswaja An-Nahdliyah terbiasa melafalkan wirid dan doa dengan suara keras (jahr) secara berjemaah, 

Sedangkan kelompok lain lebih mengutamakan zikir secara pelan atau mandiri.

Tata Cara: 

Perbedaan detail terletak pada pemilihan riwayat hadis dan doa yang diamalkan, walau secara umum keduanya tetap mengagungkan zikir kepada Allah..

#######################################################


Berikut ini adalah Konsep kaum muktazilah .

Mu'tazilah adalah aliran teologi (akidah) Islam tertua yang sangat mengedepankan rasionalisme dan logika dalam memahami ajaran agama.

 Aliran ini didirikan oleh Washil bin Atha' di Bashrah (Irak) pada abad ke-2 Hijriah. Mereka menjuluki diri mereka sebagai Ahl al-Tawhid wa al-Adl (Pembela Keesaan dan Keadilan Tuhan)


.Berikut adalah sub topik utama yang mendasari pemikiran aliran Mu'tazilah:

Lima Ajaran Pokok (Al-Ushul al-Khamsah)Teologi Mu'tazilah bertumpu pada lima prinsip dasar:

1. Tauhid (Keesaan Mutlak): Menolak bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang kekal dan berdiri sendiri (seperti mendengar, melihat, dll) karena dianggap merusak konsep keesaan Allah. 

2. Mereka juga meyakini bahwa Al-Qur'an adalah makhluk (ciptaan), bukan firman yang kekal.

3. Keadilan Tuhan: Allah sangat adil dan tidak mungkin berbuat zalim atau menghendaki keburukan. Keadilan ini menuntut Allah untuk memberikan pahala kepada yang taat dan menyiksa yang bermaksiat.Janji dan Ancaman (Al-Wa'd wa al-'Wa'id): Allah pasti menepati janji-Nya untuk memasukkan orang baik ke surga dan mengancam orang jahat dengan neraka. Allah tidak dapat mengampuni dosa besar tanpa adanya pertobatan.

Posisi di Antara Dua Posisi (Al-Manzilah baina al-Manzilatain): Orang Islam yang melakukan dosa besar tidak lagi disebut mukmin, tetapi belum menjadi kafir. Mereka berada di posisi tengah sebagai orang fasik. Jika mereka mati sebelum bertobat, mereka akan kekal di neraka, meski siksaannya lebih ringan daripada orang kafir.

4. Amar Makruf Nahi Munkar: Mewajibkan setiap Muslim untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, bahkan dengan cara kekerasan atau pemberontakan terhadap pemimpin yang zalim jika diperlukan.

5. Pandangan tentang Takdir (Qadariyyah)Dalam ilmu kalam, Mu'tazilah sangat menganut paham Qadariyyah, yaitu meyakini bahwa manusia memiliki kehendak bebas (free will) dan kemampuan penuh atas perbuatannya sendiri (free act). Manusia sepenuhnya menciptakan perbuatannya, dan Allah tidak mencampuri perbuatan manusia demi menegakkan keadilan-Nya.


Posisi dalam Sejarah IslamAliran ini sangat berjaya dan menjadi mazhab resmi negara pada masa Kekhalifahan Abbasiyah (terutama di bawah Khalifah Al-Ma'mun). Pada masa itu, mereka sempat melakukan inkuisisi (Mihnah) untuk memaksa para ulama mengakui doktrin bahwa Al-Qur'an adalah makhluk. Namun, pengaruh mereka meredup ketika kaum Ahlussunnah wal Jamaah (yang dirumuskan oleh Imam Abu Hasan al-Asy'ari, mantan tokoh Mu'tazilah) menjadi arus utama dalam teologi Islam.

Mancampak nan kaduo 

Mancampak nan katigo

Mancampak nan ka ompek

ADAT DALAM KESEHARIAN.

PSIKOLOGI

Pituah ka nan mudo

ALUA PASOMBAHAN 

Martabat nan onam

NINIAK NAN BAROMPEK

Nan Ompek

8 SOBAB MAMBANGUN SOKO

FALSAFAH ADAT

ASAL TUAH

Tompek salah

LARANGAN NAN OMPEK

Cemo

SOMBAH ANDIKO.

PUCUAK TINGGI NAMPAK JAUAH.

TALI TIGO SAPILIN.

NAGORI KOTO BARU SIMALANGGANG.

wEB SITE NAGARI KOTO BARU SIMALANGGANG.

AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH Dan bedanya dengan MUK TAZILAH


Penulis blog ini

Usaha Penulis.

SARAN PENULIS



Semoga bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Nagori Koto Baru Simalanggang.

ADAT NAGORI KOTO BARU SIMALANGGANG / CAMPAK KA OMPEK

ADAT NAGORI KOTO BARU SIMALANGGANG , CAMPAK NAN KA DUO